Rintik hujan lebih deras dari lima menit lalu,
Gelas-gelas yang mengepulkan asap tak lagi menunjukan kehangatan,
Meja-meja dan kursi-kursi di cafe ini tak lagi banyak terisi.
Lima menit lalu,
Kau menghisap dalam rokok terakhirmu,
Menatapku ragu,
Menyelipkan banyak awan hitam di sekitar meja kita.
Gelasku tak lagi sehangat sebelumnya,
Kini sedingin atmosfer di hatimu,
Tidak kau lihat, rintik air mulai memenuhi wajahku?
Kursi dan meja lain sudah tak lagi berpenghuni,
Sepi, senyap, tak terdengar apa pun selain ucapmu,
Tentang masa depan,
Omong kosong menyakitkan.
Rintiku makin deras,
Kau bilang masih banyak pria lain yang lebih baik,
Lebih menjamin masa depanku,
Adakah?
Adakah mereka yang peduli padaku selain dirimu?
Kau tahu,
Mungkin memang banyak pria di luar sana yang lebih dari dirimu,
Yang kau bilang dapat memberi masa depan seperti yang kuimpi.
Masa depan?
Tidak juga kau sadar?
Semua masa depanku ada bersamamu,
Dapatkah kita merajutnya bersama?
Mencobanya mungkin?
Aku mohon..
Kemudian kau bilang,
Bersamamu adalah kesalahan,
Menempatkan masa depanku padamu adalah kekeliruan,
Hubungan ini bukan yang terbaik untukku.
Aku larut, kau berlari,
Aku kalut, kau pergi.
Aku menatap kursimu yang kosong,
Hanya segitu sajakah?
Tidak adakah aku dalam bagian masa depanmu?
Jika kenyataannya kita bersama lima menit lalu,
Lima menit kemudian kita menjadi masa lalu,
Apakah cinta hanya sebuah masa lalu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar