Sabtu, 15 Maret 2014

Caroline - Adrian

I: “Nak, sayang, bisa kita bertemu dan saling bicara? Ibu rindu.”
C: “Bisa, bu, tentu saja. Aku pun begitu. Kapan ibu ingin bertemu denganku?”
I: “Malam ini, di rumah ibu.”
C: “Baik, segera setelah aku pulang. Akan aku masak makan malam.”

***
C: “Jadi, bagaimana rasa masakanku sekarang, bu?”

I: “Kau banyak belajar, ini jauh lebih enak dari pertama kalinya kau memasak untukku, aku hampir mati keasinan, ingat? hahaha”
C: “Maaf soal itu, dulu aku sangat bodoh memasak. hihi”
I: “Tidak apa-apa. Ini yang terbaik yang pernah kumakan, cukup membayar rasa asin yang kualami dulu. Kurasa, aku akan mulai merindukan masakanmu, sayang.”
C: “Trims bu, aku bisa memasak untuk ibu, kapan pun ibu mau.”
I: “Benarkah? Kau janji?”
C: “Tentu saja”
I: “Aku tidak tahu jika kau begitu perhatian padaku. Kesalahanku dulu adalah, aku hanya menilaimu sekilas. Maafkan aku, nak, aku yang membuat jarak di antara kita.”
C: “Lupakan masa lalu, aku sekarang senang bisa selalu di dekat ibu”
I: “Ah, nak. Aku selalu mendamba anak sepertimu.”
C: “Aku adalah anakmu, bu”
I: “Ya tentu saja. Maksudku, andai dulu aku tidak melukaimu dengan memisahkan Adrian dan kau, sekarang pasti kau adalah menantuku. Anakku seutuhnya.”
C: “Aku memang mencintai Adrian dan ia adalah pria yang hebat, dan aku sangat berterimakasih pada ibu karena membuatnya begitu. Perlu ibu ingat, dengan dan tanpa Adrian dalam hidupku pun aku akan selalu menjadi anak ibu walau tentu saja, siapa yang tidak mau menjadi menantu ibu? haha”
I: “YaTuhan, kau sungguh membuatku meninitkan air mata. Andai waktu bisa diulang, aku benar-benar akan membiarkan kalian berlari menentangku! Apa aku perlu meminta Adrian menceraikannya?”
C: “TIDAK! Tentu tidak. Demi tuhan, ibu tentu tidak berpikir ingin mengambil kebahagiaannya lagi kan?”
I: “Kau pikir Adrian bahagia dengan pemabuk itu, Caroline?”
C: “Aku tidak tahu, tapi kalau pun ibu benar-benar ingin mereka bercerai, pikirkan bagaimana kebahagian cucu ibu. Seumur hidupnya akan terluka, biarkan Luna berkembang bersama orang-orang yang dicintainya.”
I: “Kau benar, Luna, anak manis dan lugu itu, dia patut mendapat hidup yang lengkap. Kau tahu, hatimu sungguh...tunggu sebentar, aku akan mengangkat telpon, mungkin itu dari Adrian”
.
.
.
I: “Kita harus segera ke rumah Adrian, sekarang!”
C: “Ada apa bu? Terjadi sesuatu pada Adrian?”
I: “Kecelakaan”
C: “APA?”
I: “Bukan, bukan Adrian”
C: “Tuhan, syukurlah. Lalu siapa, bu?”
I: “Gisella.”
C: “Demi tuhan, bagaimana bisa?”
I: “Adrian bilang dia mengemudi sangat parah saat mabuk, sudah berulang kali kuperingatkan wanita bodoh itu. Oh Gisella, malang sekalinya nasibmu. Caroline, siapkan mobilmu! Aku akan merapikan diri dan mengambil tasku di kamar. Kita harus segera!”
.
.
.
C: “Adrian, sungguh aku minta maaf mendengar hal ini.”
A: “Aku yang harusnya berterimakasih karena kau menyempatkan dirimu kesini. Aku bahkan tidak tahu jika kau dan ibu sedang makan malam bersama. Kau tahu itu kejutan besar, Caroline.”
C: “Ya, ibumu merindukanku jadi aku membawakannya makan malam”
A: “Ibuku apa?”
C: “Nanti akan kuceritakan, jika saatnya tepat.”
A: “Baiklah”
C: “Dimana Luna? Apa dia baik-baik saja?”
A: “Sedang tertidur di kamar. Entahlah Caroline, aku tidak tahu harus bagaimana tentang Luna.”
C: “Biar aku yang mengurusnya untuk saat ini, mungkin akan sedikit membantumu”
A: “Caroline, sungguh kau sangat baik hati. Jika kau tidak keberatan, aku sangat minta tolong untuk itu selama aku dan ibu mengurus pemakaman Gisella”
C: “Ya, tentu saja. Gisella, wanita yang cantik dan anggun, dia layak mendapatkan pemakaman terbaiknya.”
A: “Caroline..”
C: “Well, bisa membawaku pada Luna?”
A: “Ya, lewat sini. Aku harap dia akan cepat akrab denganmu”

***
C: “Demi Tuhan, ADRIAN! Apa yang kau lakukan?”
A: “Well, Caroline, aku sangat minta maaf menelponmu jam segini.”
C: “jam empat PAGI!”
A: “Aku tidak tahu harus menelpon siapa. Ibu? Tentu saja tidak, dia sangat lelah seharian kemarin! Tolong bantu aku Caroline. Luna...”
C: “Ada apa dengan Luna?! Dia baik-baik saja kan? Aku bisa mendengar suaranya, kenapa dia menangis?”
A: “Tidak, maksudku dia terus merengek dan aku tidak tahu harus melalukan apa padanya. Bahkan dia baru berumur 12 bulan, aku tidak mengerti apa yang dia tangisi. Aku tidak mau tangisnya membangunkan seisi komplek. Demi Tuhan Caroline, bantu aku. Datang ke sini SEGERA!”
C: “Oh astaga, aku mengerti, baiklah”
.
.
.
C: “YaTuhan, Luna? Ada apa nak?”
A: “Sayang, berhentilah menangis, tante Caroline sudah datang...”
C: “Adrian, sungguh aku perlu mempertanyakan ini: ayah macam apa kau ini?! Dia kelaparan! Bikinkan susu atau sereal. SEGERA!”
A: “Trims Caroline, tapi aku sudah memberinya susu!”
C: “Ups, maaf. Hmm, aha! Benar dia perlu ganti popok!”
A: “Tepat! Aku baru menggantinya setelah meneleponmu.”
C: “Well, baiklah Adrian, mungkin kau menelpon orang yang salah. Aku belum pernah punya anak dan kuakui, aku tidak punya pengalaman apa pun tentang bayi menangis di pagi buta. Ah ya! Aku akan menggendong Luna. Mungkin akan menenangkannya”
A: “Ide bagus! Hati-hati”
.
.
.
C: “Begini lebih baik, tidur nyenyak ya Luna, sayang..”
A: “Caroline..”
C: “Ya?”
A: “Lebih baik Luna ditidurkan di ranjang. Tanganmu pasti sudah pegal dan sebaiknya kau juga tidur, sudah jam 6 pagi. Biar aku tunjukan...”
C: “Tidak, tidak. Mungkin aku akan pulang, hari ini ibumu harus check up bulanan untuk mengganti semua obatnya di bawah pengawasanku. Aku perlu ke rumah sakit.”
A: “Aku pasti sangat merepotkanmu, ya?”
C: “Well, Adrian. Itu kewajibanku sebagai dokter. Lalu pagi ini, ya benar, kau sangat merepotkan! Jadi anggap saja kau berhutang padaku, dan minggu pagi aku akan mengajak Luna jalan-jalan sebagai imbalannya. Setuju?”
A: “Caroline, penyelamatku! Tentu kau bisa mengajaknya jalan kapan saja”
C: “Bagus! Luna tidur yang nyenyak sayang, jangan membuat panik ayahmu terus. Tante pulang ya?”
.
.
.
A: “Ibu? ibu tidak perlu datang sepagi ini!”
I: “Caroline? Apa yang kau lakukan sepagi ini di rumah Adrian? Oh astaga, apakah aku mengganggu kalian?”
A: “Apa yang ibu katakan?! Caroline baru saja membantuku. Jangan berpikiran yang bukan-bukan!”
I: “Membantu apa? Kau bisa menelpon ibu, Adrian!”
A: “Well, pertama aku tidak mungkin melepon ibu jam empat pagi”
I: “Demi tuhan, kau datang kesini jam empat pagi, Caroline?”
C: “Ya, Luna menangis dan aku rasa Adrian tidak tahu apa yang harus dilakukan”
I: “Adrian, ayah macam apa kau?!”
A: “Trims bu, dan yang kedua adalah baru saja aku tahu hanya Caroline yang bisa menenangkan Luna selain ibu”
I: “Oh, Caroline, sayang.. mungkin Luna sudah menganggapmu sebagai ibunya..”
C: “Aku tidak tahu, bu.”
I: “Ya, tentu, tentu saja begitu..”
A: “Ibu, stop! Caroline butuh pulang dan mungkin beberapa menit untuk tidur sebelum ke rumah sakit”
I: “Baiklah, baiklah. Tapi, apa kau tidak apa-apa? Kau pasti lelah, Carolin. Lebih baik kau sarapan disini, akan ibu buatkan kopi dan penekuk. Setelah sarapan, Adrian akan mengantarmu pulang. Tidak usah khawatir tentang Luna, ibu akan menjaganya sampai Adrian kembali. Bukan begitu Adrian?”
C: “Tidak usah repot-repot. Aku bawa mobil sendiri”
I: “Ibu memaksa! Atau kau tidak akan melihat ibu ke rumah sakit hari ini”
A: “Oh, bu. Ancaman macam apa ini?”
C: “Baiklah aku menyerah. Adrian, selama ibumu menyiapkan sarapan, boleh aku meminjam kamar tamu? Sepertinya tidur beberapa menit sangat menyenangkan”
A: “Tadi sudah akan kutunjukan padamu, Caroline.”
.
.
.
I: “Penekuk lagi, Caroline?”
C: “Tidak bu, terimakasih. Sepertinya aku sudah selesai dan akan langsung pulang.”
I: “Baiklah, Adrian, cepat habiskan penekukmu dan antar Caroline pulang!”
C: “Hm, aku rasa Adrian lebih baik siap-siap untuk ke kantor dari pada mengantarku. Aku bisa sendiri, bu”
A: “Ide bagus, tapi aku masih dalam masa cuti dan aku khawatir kalau-kalau ibuku mengurungkan niatnya untuk check up ke rumah sakit”
I: “Bagus, Adrian!”
A: “Oh, baiklah. Ini kunciku, aku akan ke toilet sebentar”
.
.
.
A: “Aku tidak ingat jika jalan ini menuju rumahmu”
C: “Aku sudah pindah beberapa minggu yang lalu”
A: “Kau tidak memberitahuku!”
C: “Penting bagimu, eh?”
A: “Ah, well mungkin aku bisa sedikit membantumu jika kau memberitahuku, Caroline.”
C: “Aku bisa mengatasinya sendiri, Adrian. Lagi pula, ibumu sudah sangat membantu.”
A: “Demi Tuhan, Caroline. Aku sangat terkejut kau bisa sedekat itu dengan ibuku bahkan setelah semua kejadian dua tahun lalu, bisa kau ceritakan bagaimana bisa itu terjadi?”
C: “Ya, tapi aku tidak akan mengingat kembali kejadian dua tahun lalu. Ah ya, Kau tahu Professor Abimayu?”
A: “Tentu, dia teman ibuku”
C: “Well, empat bulan lalu beliau merekomendasikan aku pada ibumu. Aku sendiri terkejut dengan kehadiran beliau yang membawa ibumu ke ruanganku tapi aku harus bersikap professional, tentu saja. Awalnya memang sedikit cangung, tapi kami berhasil mengubur masa lalu. Jadi, seperti ini lah kami sekarang.”
A: “Bagus! Sangat bagus! Bahkan beberapa hari lalu kau bisa membuat ibuku rindu padamu”
C: “Ya, dan asal kau tahu saja bahkan dia sudah menganggapku sebagai anaknya. Oh, hi Adrian, my brother!”
A: “Kau serius, Caroline? Tapi ini tidak lucu, aku tidak akan pernah mau menjadi saudaramu!”
C: “hahahahahahahahaha ya, ya, ya, saudara, saudara, terdengar lucu bukan? Hemm”
A: “Mungkin aku bisa mulai memahami mengapa ibuku merindukanmu saat kau membawakannya makan malam. Kau memang selalu membuat orang lain rindu.”
C: “Begitukah?”
A: “Ya.”
C: “Di depan belok kanan, pagar warna emas”
A: “Oke”
.
.
.
C: “Minum?”
A: “Rumah barumu bagus”
C: “Trims, kopi, teh, es jeruk?”
A: “Tentu kau tidak akan membuat perutku tak karuan dengan menawarkan es jeruk di pagi hari kan?”
C: “Jadi, kopi atau teh?”
A: “Hem.. Jeruk hangat!”
C: “Well, kau tahu, kau menyebalkan!”
A: “Begitukah?”
C: “Ya. SELALU!”
A: “Baiklah, aku minta maaf dan apakah aku boleh duduk di sofa indahmu?”
C: “Oh, anggap saja rumah sendiri, Adrian. Aku akan membuatkan jeruk hangat untukmu”
A: “Oke, kalau gitu aku akan ikut ke dapur saja”
C: “Terserah!”
.
.
.
A: “Trims”
C: “Jika kurang manis, ambil saja gulanya sendiri di laci ke dua. Aku akan mandi dan menyiapkan perlengkapan kerjaku”
A: “Ini pas, kau selalu hebat membuat jeruk hangat”
C: “Trims”
A: “Jangan terlalu lama, Caroline. Kita punya seorang bayi dan wanita tua yang harus diurusi di rumahku”
C: “Kau! Ayah sekaligus anak durhaka!”
A: “Hanya bercanda, tolong cepat, aku tidak bisa membiarkan mereka menunggu terlalu lama”
.
.
.
A: “Sudah siap, Caroline?”
C: “Ya, hanya tinggal memakai sepatuku.”
.
.
.
C: “Jadi bagaimana kau selama ini?”
A: “Aku? Baik. Ibuku mungkin sudah banyak cerita padamu, jadi lebih baik aku yang mengajukan pertanyaan itu: bagaimana kau selama ini?”
C: “Ah, ya, ibumu selalu bercerita tentangmu. Aku, sampai bosan dengan topik pembicaraan kami. Jadi, aku menjalankan aktivitas kedokteraanku seperti biasa, pindah rumah, dan setahun belakangan ini aku bersama sesorang dan err.. kami akan bertunangan minggu besok”
A: “Serius Caroline?”
C: “Apa aku terlihat bercanda? Maaf Adrian kartu undangan telah habis, tapi kau harus datang! Aku memaksa!”
A: “Aku tidak tahu, akan kulihat jadwalku nanti”
C: “Adrian, ada apa?! Hentikan mobilnya! Kau akan membuat kita berdua mati?”
A: “Maaf, Caroline. Maaf, aku kehilangan kendali.”
C: “Tidak usah menyetir sekasar itu! Baiklah aku mengaku, aku hanya bercanda soal pertunangan itu, Adrian!”
A: “CAROLINE!”
C: “.....”
A: “Kau! Gadis yang menyebalkan!”
C: “Hi, pria yang seperti kepiting rebus di bangku kanan, aku hanya ingin melihat reaksimu. Itu saja.”
A: “Tidak lucu!”
C: “Kau marah?”
A: “YA!”
C: “Demi tuhan, Adrian. Kau punya Luna dan kau masih memikirkan aku? Aw! Sialan kau, jangan menghentikan mobil mendadak!”
A: “Caroline dengar! Bagaimana mungkin aku melupakan seluruh yang pernah terjadi terhadap kita. Masalah yang terjadi dua tahun kebelakang, ya, aku tahu itu membuat kita kesakitan, tapi apa yang terjadi sekarang? Kau dan ibuku sudah sangat dekat, dan aku tidak akan menyia-nyiakannya, aku tidak akan membiarkan pria lain mana pun lebih dulu melamarmu, dan Luna, tentu saja aku memikirkannya, dia butuh ibu, Caroline, kau ibu yang tepat untuknya”
C: “Adrian, aku tidak menyangka jika akan secepat ini kau mengata...”
.
.
.
A: “Sudah siap bu?”
I: “Sudah, dan perlengkapan Luna pun sudah siap.”
A: “Bagus.”
C: “Adrian mandilah dengan cepat”
I: “Jadi, bagaimana Caroline?”
C: “Apa yang bagaimana, bu?”
I: “Adrian, tentu saja”
C: “Oh, dia, masih sehebat dulu”
I: “Benarkah?”
C: “Ya”
I: “Wajahmu memerah, Caroline. Apa yang terjadi tadi?”
C: “Ah, mungkin aku kepanasan karena cardigan ini terlalu tebal. Tidak, tidak ada yang terjadi. Kami hanya...mengobrol.”
I: “Hemm, cukup baik untuk permulaan”
C: “Ibu!”
I: “hahaha, baiklah-baiklah. Bisa menggantikanku menggendong Luna?”
.
.
.
A: “Bagaimana?”
C: “Ya, hasilnya cukup baik. Aku akan menurunkan dosis obatnya”
I: “Kau lihat Adrian, Caroline adalah dokter yang hebat!”
A: “Aku tahu sudah sejak lama, bu”
I: “Oh baiklah. Caroline, kau mau makan siang bersama kami?”
C: “Maaf bu, tapi aku masih punya banyak pasien.”
I: “Sayang sekali, hm, kalau begitu, makan malam bersama?”
C: “Akan aku usahakan”
I: “Bagus! Aku akan memasak banyak malam ini.”
C: “Trims bu.”
I: “Oke, kami pulang ya? Bye, Caroline sayang.”
C: “Bye bu, bye Luna, anak manis dan Adrian, hati-hati di jalan.”
.
.
.
C: “Ada yang tertinggal?”
A: “Ya, hatiku.”
C: “Oh, baiklah tuan, akan kubantu mencarinya, agar pasien-pasienku tidak lebih lama lagi menunggu”
A: “Ide bagus, dan aku senang wajahmu memerah”
C: “AC di ruanganku rusak!”
A: “Kau pandai mencari alasan dan.. telpon aku jika sudah selesai, akan kujemput”
I: “Tentu saja kau harus menjemputku, jika kau tidak lupa mobilku terparkir cantik di garasi rumahmu”
A: “benar, kalau gitu...”
C: “...”
A: “Sampai jumpa, semoga harimu menyenangkan, Caroline”
.
.
.
C: Jam 5 aku selesai. Tidak bisa menelpon lagi, datang saja tepat waktu.”
A: “Oke, sampai bertemu”
.
.
.
C: “Oh, hi, bahkan ini belum jam 5”
A: “Lima menit lebih awal kurasa tak masalah kan?”
C: “Kalau gitu aku akan merapikan barang-barangku dulu”
A: “Sebelum menuju rumah ibu, aku akan mampir ke Georgina's House untuk membeli beberapa puding rasberry pesanan ibu, tak keberatan kan?”
C: “Tak masalah. Jadi, kita ke rumah ibu? Aku pikir kita akan makan malam di rumahmu”
A: “Ibu tidak pernah mau menginap, jadi lebih baik di rumahnya dan kurasa persediaan bahan makanan di sana lebih sehat untuk kita berempat.”
C: “Oh, jadi, malam ini mobilku akan menginap di garasimu?”
A: “Sepertinya begitu”
.
.
.
I: “Hi, Caroline sayang.. Bagaimana harimu?”
C: “Hi, bu. Cukup melelahkan, tapi kurasa sudah terbayar dengan makan malam bersama kalian semua di sini. Dimana Luna?”
I: “Luna masih tidur, sayang. Dia ada di kamar Adrian”
C: “Oh, boleh aku membantu?”
A: “Tidak, tidak, kau sudah lelah seharian ini. Biarkan ibu menjadi penjamu tamu yang baik. Kau lebih baik duduk dan menonton tv”
I: “Ya, ibu bisa menyelesaikannya. Bawa dia ke ruang tv, Adrian”
A: “Kau dengar? Ayo!”
C: “Oh, baiklah”
.
.
.
A: “Air jeruk dingin, Caroline”
C: “Trims”
A: “Aku tidak akan membiarkan ini terlalu lama”
C: “Ini?”
A: “Kita.”
C: “Ughk! Kita?”
A: “Ya, kita. Kau tak apa-apa?”
C: “Kau hampir membuatku tersedak! Kita?”
A: “Ya, harus kuulangi berapa kali, Caroline manis?”
C: “Demi tuhan, Adrian. Kau benar-benar membuatku terkejut!”
A: “Tenang sayang”
C: “Oke, well, ada apa dengan kita?”
A: Seharian ini aku telah memikirkannya”
C: “Memikirkan?”
A: “Tentang apa yang kubilang tadi pagi saat perjalanan menuju kembali ke rumahku”
C: “hmm?”
A: “Bulan depan aku akan melamarmu, Caroline, kau bersedia kan?”
C: “Oh Tuhan Adrian.. Kau bertanya seperti itu sama saja kau melamarku saat ini. Adrian, tentu aku bersedia ...”
A: “... Trims Caroline”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar