Aku ingin menulis,
Saat kau datang membawa setangkai mawar,
Merayuku dengan mantap,
Membuatku merona,
Membuatku luluh.
Aku ingin menulis,
Bagaimana suaramu begitu menawan,
Bagaimana senyummu sungguh membuatku berdebar.
Bagaimana tawamu sangat memabukan jiwaku.
Bagaimana hadirmu adalah candu.
Aku ingin menulis,
Musik yang kau mainkan,
Berbait lirik tentang kisah kita yang terlewati,
Miliaran not yang terus bersenandung,
Membentuk nada dalam musik kehidupan cinta.
Aku ingin menulis,
Tentang aku, kamu, dan masa depan,
Tentang apa yang ada dipikiranmu,
Tentang apa yang ada dipikiranku,
Tentang apa yang kita perdebatkan,
Tentang rencana Tuhan dalam kita yang berbeda.
Aku ingin menulis,
Mengapa langit yang begitu merah jambu berubah kelabu,
Mengapa hujan tak selamanya membawa pelangi,
Mengapa senandung semesta tak selalu merdu,
Mengapa semua begitu cepat berlalu.
Aku ingin menulis,
Ketika burung berkicau,
Ketika mentari terbit,
Ketika awal hari baru dimulai,
Kau berdiri di depan sebuah altar,
Menunggu dengan cemas,
Menanti dengan gelisah.
Aku ingin menulis,
Ketika mata kita bertemu,
Kau dalam tuksedo putihmu,
Aku dalam hijab putihku,
Seolah memperjelas.
Sesaat, selama yang aku bisa,
Aku berdoa agar waktu terhenti,
Biarkan seperti ini,
Biarkan mataku berada di matamu.
Aku ingin menulis,
Saat kau membawakan sebuah cincin,
Saat kau mengucapkan kata ajaib,
Sesaat aku menangis,
Bukan untuk jemariku atau untuk kubalas katamu,
Tuhan jahat bukan?
Menulis,
Tentang perdebatan yang berujung pengakhiran.
Menulis,
Musik yang berubah pilu dan mengerikan.
Menulis,
Tawamu yang bukan lagi untukku.
Menulis,
Pengharapanku yang tidak pada tempatnya,
Impianku yang terlalu melambung,
Mimpiku yang tak mungkin menjadi nyata.
Menulis,
Tentang kau yang mustahil membacanya.
Menulis,
Tentang semua kita yang berakhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar