Minggu, 09 Februari 2014

Tarian Hujan

Mataku terpejam, namun kakiku terus melangkah; menelusuri jalan setapak di belakang kampus.
Aku menghirup sangat dalam, menikmati udara beraroma tanah karing.
Tangan kurentangkan, merasakan angin yang sedikit kencang.
Tetes pertama air langit mendarat tepat di telapak tanganku.
Mataku terbuka lebar, “HUJAN!!”
Aku berteriak riang.
Aku melomat, melempar tasku ke udara lalu menangkapnya dan membawanya ke tempat beratap.
“Aman!”
Kemudian aku belari lagi, terpejam lagi, menghirup lagi dan merentangkan tanganku lagi.
Ditengah jalan setapak, lariku terhenti, kini digantikan putaran seruluh tubuh; Aku menikmati hujan!
“Tuhan, sesederhana ini aku bahagia” aku masih berputar
“Tuhan, terimakasih telah menciptakan hujan” senyumku kian melebar
“Tuhan, terimakasih telah menciptakan Amora untukku” suaramu, menghientikan putaran tubuhku dan membuka mataku.
“Ah! Tuhaaaan...” Tanganku yang terlentang kini menyambutmu, memelukmu, eraaaat “Terimakasih telah mengirimkan malaikat seperti Demas, Tuhan”
.
.
.
.
Payungmu terbuka lebar, mengentikan tetesan hujan diatas kepalaku
“HEI!” Aku membuka mata lebar
“Kenapa? Kau bisa sakit!” Kau sedikit kaget melihat ekspresiku
“Kau tidak tahu ya? Aku sedang menikmati hujan!” nadaku sedikit meninggi.
“Konyol!” Kau malah mengolokku.
Aku mengambil alih payungmu, melipatnya dan melemparnya jauh.
“HEI!!” Kini giliranmu yang naik darah
“SSSST! Diam! ...Kau merasakan apa yang kurasakan?”
“DINGIN!”
“Bukan, bukan itu! Pejamkan matamu”
“TI-DAK!”
“Ayo! Pejamkan! Seperti ini” aku memejamkan mataku “nanti kau akan merasakan sesuatu”
“Eng?”

Kau tertawa, aku mulai jengkel.

“Ya Tuhan...” Katamu, aku peduli
“Tuhan, hujannya..... Berhenti?” Aku bertanya, mataku masih terpejam.
Hujan terhenti seketika di atas kepalaku.
Aku membuka kedua mataku
“Ah, well! Aku kira tadi kau menikmatinya. Hah! TUTUP PAYUNGMU!” Pria tadi benar-benar membuatku naik darah.
“Konyol. Kau bisa sakit!”
“Payungmu itu, bisa membuatku kesakitan!”
Satu alis pria itu terangkat, tidak mengerti apa yang sedang aku ucapkan di hadapannya. Tapi akhirnya, ia menutup juga payungnya.
“Ini lebih baik” mataku kembali terpejam
“Kau, kau menyukai hujan?”
“Sangat!” Kepalaku diangkat sedikit menghadap langit dan tangan-tanganku kembali direntangkan
“Aku tidak suka hujan!”
“Aku tidak tanya. Dan silahkan cari tempat berteduh jika memang benar kau tidak menyukai hujan”
“Kau?”
“Dari sebelum kau datang, aku sudah berada di sini. Aku akan baik-baik saja selama hujan masih turun”
“Ah, benar. Tapi aku menyukai atmosfer setelah hujan.” Pria itu tetap berdiri di tempatnya walau telah diusir secara tidak langsung. “Udara menjadi lebih harum. Aku juga suka matahari setelah hujan, garis-garis cahanyanya menawan di atas langit yang masih agak temaram.”
“Kau benar. Tapi kau tetap tidak menyukai hujan!”
“Menghambat aktivitas”
“Itu bukan alasan!”
“Lalu, kenapa kau menyukai hujan?”
“Aku bisa melakukan ini saat hujan” Aku berputar, tersenyum, menikmati setiap putarannya.
“Tarian hujan, eh?”
Gerakanku terhenti, kedua kelopak mataku terbuka “Mau menari bersamaku?”
Belum sempat pria itu menjawab, tangannya telah kutarik, dan kakinya dipaksa berputar seirama dengan aku.
“Kau tahu, jika kau menangap bahwa sinar adalah kebahagian sejati, sungguh kau belum pernah bernari di bawah hujan” kataku, pria itu tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar