Pagi itu, kau masuk ke dalam kamarku sambil membawa selembar foto dan sebuah kotak yang cukup besar untuk ukuran anak usia delapan tahun. Kau bilang, kotak itu adalah kotak ajaib yang mampu bercerita kepada kita tentang cerita yang kita ceritakan padanya. Well, aku percaya itu. Kemudian, katamu agar kotak ini berfungsi dengan baik,
kita harus bercerita tentang benda-benda kenangan yang kita miliki di hadapan kotak itu lalu masukkan benda-benda tersebut ke dalam kotak. Oh, aku mengerti cara kerjanya. Lalu kau memperlihatkan foto berukuran empat er dan mulai bercerita. Foto itu diambil saat liburan musim panas. Ombak, burung camar, perahu nelayan, payung warna-warni, dan semeraut orang menjadi latar dari foto tersebut. Kau menunjuk dua orang objek utama foto yang tersenyum ceria. Aku mengamati wajah mereka, seorang pria memamerkan deretan giginya yang cemerlang sedang merangkul seorang wanita berumur tiga puluh enam tahun di sampingnya yang mirip denganku. Aku ternyum, membanyangkan wajahku ketika dewasa nanti. Mungkin persis sepertinya, batinku. Ah, aku jadi tidak fokus mendengarkan ceritamu. Well, di akhir cerita kau membalikannya lalu menunjukan susunan huruf dan angka-angka yang kau bilang adalah tempat dan tanggal kalian berlibur dan berfoto.
"Noosa, tanggal tujuh juli tahun dua ribu" jelasmu.
"Ah, bagus, aku harus melakukan hal yang sama terhadap foto-fotoku" kataku. Lalu kau memasukan foto itu ke dalam kotak yang kau bawa. Kotak Kenangan Bercerita. Di hari nanti kotak ini yang akan bercerita semua yang kuceritakan tadi, Katamu.
“Oke, aku selesai” katamu sebari menutup kotak itu.
“Liburan yang menyenangkan, kak!”
“Sekarang giliranmu”
“Aku?”
“Iya, aku ingin kotak ini menyatukan kenangan-kenangan kita”
“Ah, well. Tunggu sebentar”
Aku buka laci di samping tempat tidurku. Mencari-cari sesuatu yang bisa kuceritakan.
“Kau bisa menceritakan liburan musim panasmu!”
“Benar. Ini dia, foto liburan musim panasku” kataku sambil mengcung-acungkan beberapa foto yang kutemui di laci.
“Oh oke, aku siap dengan ceritamu” sahutnya
"Lihat! Ini aku dan ayah, kita memakai baju yang sama, lucu kan?" Kataku lalu terkekeh
"Errr" geramnya
"Kau bisa baca tulisan ini?" Kataku masih terkekeh sambil menunjuk minuman yang ayah pegang di foto.
"Hmmm" dia menyipitkan mata "Wizarding wor... AH! KALIAN PERGI ke ORLADO?"
Aku menganguk mantap.
"KEREN!"
"Kapan-kapan, kau harus kesana!" Kataku
"Ah, ya benar" suara ayah di ambang pintu kamarku mengalihan perhatian kami "Lain kali ayah akan mengajakmu liburan bersama kami tentu jika ibu tidak keberatan"
"Dia pasti dan harus mengijinkan!" Kata, Reyhan bersemangat.
"Andai ibu juga bisa ikut dengan kita" Keyna tampak murung
"Kau bisa liburan bersama Rey dan ibumu juga jika kau ingin, walau tentu ayah tidak bisa ikut."
"Kadang aku, ingin seperti dulu" mata Keyna mulai berkaca-kaca
"Sudahlah Key" Reyhan menenangkan.
"Maafkan kami, nak. Perpisahan yang terbaik." Ada jeda sebentar sebelum ia melanjutkan "Ah, ya, Rey, ibumu sudah menunggumu di depan. Key, kau tidak mau kan terlihat seperti itu di depan ibumu? Ayah tidak mau dia melarangmu tinggal bersama ayah, hapus air matamu, nak. Ayah dan ibu tunggu kalian di depan." Dia pergi meninggalkan dua anak kembarnya.
"Kotak ini biar aku yang simpan" Keyna menyeka air matanya, kemudian tersenyum "Setidaknya, cerita kita; aku, kak Rey, Ibu, dan Ayah akan tetap utuh di dalamnya"
"Ya, tentu Key. Kalau aku mengunjungimu lagi, aku akan bawa lebih banyak foto. Foto kita berempat yang masih kusimpan"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar