Sementara aku telah kembali menjadi aku. Kehilanganmu pada akhirnya memberi kelegaan, terbuka mataku bahwa betapa aku tetap disayang Tuhan.
---
Setidaknya ini dalam sudut pandangku,
tolong hentikan seolah aku yang menyebabkan setiap inci perubahan dalam dirimu. Tidak kah kamu sadari, memiliki aku hanyalah sebuah ambisi bagimu; berpura-pura menjadi orang lain hanya untuk mendapat simpati dariku? Ayolah, awalnya aku tidak memaksa kamu untuk menjadi yang bukan kamu, kemudian dalam berjalannya waktu aku mulai menikmatinya yang kamu anggap sebagai kesalahanku dan lihat betapa dirimu tersiksa atas ini semua sampai akhirnya kamu sendiri muak atas apa yang kamu mulai. Lalu, saat kamu mulai merancu, menyalahkan aku yang tampaknya terlalu menginginkan kamu menjadi seperti ini, menjadi seperti itu, menjadi seperti yang bukan kamu, memang seperti apa persisnya aku harus menginginkanmu menjadi? Jika pada kenyataannya aku tidak pernah tahu seperti apa persisnya dirimu! Oh, ya, benar, ambisimu telah tercapai; aku telah menjadi milikmu. Aku yang terlalu bodoh membuka hati padamu, mempercayaimu, dan tidak menyadari kepalsuan dirimu. Sekarang, tak usah repot lagi kamu membuat dirimu menjadi yang bukan kamu, karena aku akan segera menghilang dari pandanganmu, jangkauanmu, dan apa kamu sadari? Aku telah menghilang dari hatimu semenjak ambisimu tercapai! Semoga kamu lega atas akhir dari semua kepalsuanmu, penderitaanmu. Semoga Tuhan menyayangimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar