Jadi ini adalah rapat pertama dan organisasi pertama gue selama jadi mahasiswa. Iya, gue emang selama ini cuma kuliah-pulang-kuliah-pulang gitu aja terus siklusnya sampe kemaren. Tapi gak cuma kuliah sih, tiap sebulan sekali gue
Tentang Aku dan kalimat-kalimat penghidupku. Sebagian aku adalah apa yang ada di sini. Untukmu, bersikaplah bijak dalam menilai sudut pandangku, karena matahari yang sama pun selalu dapat dinikmati dalam belahan dunia yang berbeda.
Jumat, 28 Februari 2014
Kamis, 27 Februari 2014
Shit Just Got “Real”
Semester tiga lalu. Di tiga pertemuan awal perkuliahan, gue sama sekali gak tau siapa dosen yang bakal masuk kelas intermediate accounting gue. Kalau menurut selintingan kabar dari temen-temen sih, “bapak-masih-di-jalan-tol” yang bakal masuk, kemudian selentingan-selentingan ini pun dilanjutkan dengan
Minggu, 09 Februari 2014
Perkara Cinta
Perkara cinta, mungkin engkau adalah ahlinya.
Mengajari aku bersabar, tentang bagaimana terbiasa denganmu.
Membimbingku bahwa cintaku adalah kamu.
Meracuni pikiranku untuk selalu mengingatmu.
Kemudian,
Mengajari aku bersabar, tentang bagaimana terbiasa denganmu.
Membimbingku bahwa cintaku adalah kamu.
Meracuni pikiranku untuk selalu mengingatmu.
Kemudian,
Kotak Kenangan Bercerita
Pagi itu, kau masuk ke dalam kamarku sambil membawa selembar foto dan sebuah kotak yang cukup besar untuk ukuran anak usia delapan tahun. Kau bilang, kotak itu adalah kotak ajaib yang mampu bercerita kepada kita tentang cerita yang kita ceritakan padanya. Well, aku percaya itu. Kemudian, katamu agar kotak ini berfungsi dengan baik,
Tarian Hujan
Mataku terpejam, namun kakiku terus melangkah; menelusuri jalan setapak di belakang kampus.
Aku menghirup sangat dalam, menikmati udara beraroma tanah karing.
Tangan kurentangkan, merasakan angin yang sedikit kencang.
Tetes pertama air langit mendarat tepat di telapak tanganku.
Mataku terbuka lebar, “HUJAN!!”
Aku menghirup sangat dalam, menikmati udara beraroma tanah karing.
Tangan kurentangkan, merasakan angin yang sedikit kencang.
Tetes pertama air langit mendarat tepat di telapak tanganku.
Mataku terbuka lebar, “HUJAN!!”
Merasa
Setiap kali aku mulai membaca tulisanmu.
Paragraf per paragraf.
Kalimat per kalimat.
Kata per kata.
Huruf per huruf.
Aku menemukan duniaku.
Seolah kau tahu segalanya
Paragraf per paragraf.
Kalimat per kalimat.
Kata per kata.
Huruf per huruf.
Aku menemukan duniaku.
Seolah kau tahu segalanya
Dalam Sudut Pandangku
Sementara aku telah kembali menjadi aku. Kehilanganmu pada akhirnya memberi kelegaan, terbuka mataku bahwa betapa aku tetap disayang Tuhan.
---
Setidaknya ini dalam sudut pandangku,
---
Setidaknya ini dalam sudut pandangku,
Langganan:
Postingan (Atom)