Aku mencintaimu.
Aku tidak pernah berpikir jika waktu berlari secepat ini, seakan tujuh tahun yang lalu adalah kemarin.
Kemarin, saat pertama kita saling mengenal.
Ingat?
Kau membantuku mengambil buku di perpustakaan.
Kemudian, aku selalu mengandalkanmu untuk mengambilkan buku-buku di rak paling atas.
Ah, kau pernah bilang padaku, selain buku, ibumu adalah urutan paling pertama yang kau cintai.
Tentu saja.
Lalu kau bilang, aku adalah orang yang mengalahkan semua buku-bukumu.
Oh well, aku gak tau harus bilang apa.
Aku juga mencintaimu.
Hingga saat tahun kelima kita bersama, kau membawaku ke rumahmu. Kau ingin membuat surprise di ulang tahun ibumu: Memperkenalkanku sebagai calon istrimu.
Tapi, rupanya ibumu punya surprise yang lebih mengejutkan. Mengejutkan kita.
Mengejutkan aku.
Ditengah-tengah keluargamu. Di depan aku dan kamu yang memegang lembut tanganku. Ibumu memperlihatkan sebuah kotak kecil dengan dua benda bulat di dalamnya. Kemudian beliau bilang itu adalah sepasang cincin pertunangan; pertunanganmu dan wanita yang sudah dijodohkan denganmu.
Aku kaget. Mataku panas. Air mataku melngalir tanpa permisi.
Kakiku bergetar, refleks, melangkah ke belakang.
“Nes” Genggamanmu, kau perkuat.
“Enggak Zar” aku melepaskan genggamanmu.
Berlari.
Menjauh.
“Anes!” Kau mengejarku.
“Zarry!” Ibumu berteriak.
Tapi kau tidak menghiraukannya.
Aku terus berlari.
“Anesa!” Kau meraihku lalu sedetik kemudian memelukku, menenangkanku.
“ZARRY!” Rupanya ibumu mengejarmu, berteriak lebih keras, memanggil namamu.
“Maaf ma, zarry gak bisa. Zarry sama Anes udah lima tahun. Mama gak bisa jodohin Zarry dengan orang lain gitu aja” sahutmu sambil menarikku cepat menuju mobilmu.
“Masuk nes!”
Tanpa menunggu jawabanku kau membimbingku masuk.
Kemudian menyalakan mesin mobilmu.
Menghiraukan segala tatapan keluargamu.
Meninggalkan orang orang pertama dalam daftar yang kau cintai; ibumu.
Kau terus melaju mobilmu, cepat.
Membawaku tanpa arah.
Mengacuhkan hak pengendara lain.
Rodamu terus memacu.
Langit kian menghitam.
Jalan semakin lengang.
Pohon-pohon makin banyak berjejer di kanan-kiri jalan.
“Zar..” Aku mengenggam lembut tangan kirimu; meminta memperlambat laju mobilmu.
Kau menoleh sedetik, kemudian memperlambat laju mobilmu. Membawanya ke pinggir jalan lalu menghentikan lajunya.
Kau mengenggam balik tanganku.
“Nes, maaf. Maaf aku gak tau kalau akan kayak gini.”
“Aku gak tau kalau kamu udah dijodohin”
“Aku bahkan gak tau tentang itu nes. Maafin aku nes, maafin mamaku”
“Aku gak tau harus bilang apa”
Kau memelukku erat. Menenggelamkan wajahku di dadamu.
“Kamu tau gak nes? Kamu baru aja ngalahin mamaku”
Aku menarik diri dari pelukanmu
“Aku gak pernah mau saingan dengan mama kamu, Zar. Beliau harus tetap jadi yang pertama dalam daftarmu. Karena aku gak bisa ngasih cinta yang lebih dari cinta mama kamu ke kamu”
“Aku janji, aku akan bikin mama cinta ke kamu juga nes”
Kau mencium keningku.
Lama.
.
.
.
Lama kita berusaha.
Dua tahun.
Merayu ibumu untuk menerimaku.
Membatalkan perjodohanmu.
Hingga akhirnya.
Saat aku menungguimu sidang pasca sarjanamu.
Satu bulan yang lalu.
Ibumu, mendatangiku.
Membawakanku sebuah amplop putih.
“Saya mencintai Zarry” katanya
Aku membuka amplop dengan lambang rumah sakit di sudut kiri atasnya.
“Saya tahu, anda pun mencintai Zarry” lanjutnya
Aku mengeluarkan sebuah kertas dari dalam amplop tersebut.
Aku membacanya beberapa detik.
“Sebelum tiba waktuku, saya ingin melihat anakku menikah” beliau menitikan air mata
Aku gak tau harus bilang apa.
Aku memeluk ibumu.
Kami menangis.
Aku menangis.
.
.
.
Kamu! Jangan nangis!
Karena pada akhirnya, tujuh tahun kebersamaan kita ini menemui takdirnya.
Zarry.
Anesa.
Menemui takdirnya.
Zar, Anes saat ini sedang berada di level tertinggi mencintaimu; mengikhlaskanmu.
Zarry..
Buat ibumu bangga!
Ucapkan ijab qobul dengan lantang!
Ibumu mencintaimu
Aku mencintaimu.
Semoga, calon istrimu juga.
http://coklatkodok.tumblr.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar