Kau dan beberapa teman lainnya bersenda gurau, tertawa terbahak-bahak dan saling mengejek “Dasar cowok!" Gumamku.
"Hey! Diem aja lo, ness?" Sahutmu
"Eh?"
Aku menengok ke belakang. Kau melangkahkan kakimu. Mendekatiku.
DEG!
"Aku lagi nikmatin pemandangan dari atas rumah kamu nih, Keren banget!" Kataku sambil mengatur nafas dan membenarkan posisi badan untuk fokus ke sebuah lampu jalan agar tidak terlihat salah tingkah.
"Akan lebih keren kalau gak mendung ness" katamu.
"Kapan-kapan kalau gak mendung, boleh gue ke rumah lo lagi?"
"Modus nes?"
"Sial!" kataku sambil mencubit tanganmu.
"Aw! Bercanda kali!"
"Hmm" aku kembali menyeruput kopiku.
"Hmmph" Kau menarik nafas berat “Dulu, bulan purnama ke 15 kita. Aku pernah mau ngajak kamu ke sini lho ness"
DEG!
"Lo gak pernah bilang mau ngajak gue kesini?"
"Lo tau sendiri, dulu situasi kita gimana. Eh, sekarang sama aja sih. Anyway Gimana lo sama monyet lo itu?"
"Dia udah mati"
"Ness. Bearti kita bisa mulai lagi dong?"
"Abi, please!" Aku menatapmu.
Kau menatapku lebih dalam.
"Gue gak bisa! Bi. Semuanya udah gak sama kayak dulu!"
"Tapi kenapa ness?" Tangganmu bergetar, kotak hitam itu berdering, berkelap-kelip memunculkan nama seseorang.
"Monyet lo nelpon!"
"Ness!"
"Gue pulang dulu ya bi" Kataku, sambil meletakan cangkir kopi yang masih terisi setengahnya berasama hatiku yang masih ada untukmu.
"Gak nes" kamu memegangi tanganku “Kita gak bisa terus-terusan ngebohongin perasaan masing-masing. Gue masih sayang sama lo!"
DEG!
"Gue juga bi! Gue juga!!" Kataku dalam hati. Ingin rasanya memelukmu dengan erat tapi apa daya. Aku melepaskan jari-jari kokohmu dari tanganku. Aku mulai berlari, menuju tangga rumahmu. Menghiraukan suara tanya dari teman-teman yang heran melihatku pergi. Dibelakangku. Suara langkah tergesa-gesa mengikuti. Semakin cepat aku memicu kakiku, menuruni setiap jengkal anak tangga yang melikuk.
"Buru-buru banget, mau kemana?" Suara lembut seoarang wanita paruh baya menghentikan langakhku dan langkah dibelakangku.
"Eh. Em tante?" Aku kikuk.
"Temen kamu gak makan dulu bi? Catreringnya kan masih belum datang" Sahut pria yang seluruh rambutnya telah memutih.
Aku menengok kebelakang dan langsung membuang muka “Enggak om, aku mau langsung aja. Makasih" aku tersenyum, semakin kikuk.
"Dia bukan temen aku pah" Katamu, yang sedetik kemudian telah menggenggam telapak tanganku.
"Eh?" Aku salah tingkah, memelototi abi “Bi! Lepasin" kataku sedikit berbisik sambil berusaha melepaskan genggamannya.
"Enggak ness" Kau tersenyum, menguatkan ngenggangamanmu lalu membimbingku dengan sedikit menyeret untuk mendekati orang tuamu.
"Kenalin pah, mah, ini Anessa. Calon Abi"
DEG!
http://coklatkodok.tumblr.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar