Senin, 08 Juli 2013

Agen Konspirasi


Aku.
Seorang gadis biasa dengan pakaian seadanya.
Aku.
Seorang gadis dengan mata minus yang harus melihat segalanya dengan positif.
Kamu.
Kamu bilang ini tentang cinta.

Ibumu dan aku mencintaimu.




Untuk kamu yang sebentar lagi berada di meja penghulu.
Aku mencintaimu.
Aku tidak pernah berpikir jika waktu berlari secepat ini, seakan tujuh tahun yang lalu adalah kemarin.
Kemarin, saat pertama kita saling mengenal.
Ingat?

DEG!




Malam itu, aku menyeruput secangkir kopi di balkon lantai tiga rumahmu. Menikmati indahnya lampu-lampu jalan yang membentuk titik-titik gemerlap di kota bogor. Angin malam bersembus tak teratur, membawa setiap jengkal nafasmu. Aku menikmati setiap kata yang kau ucapkan. Aku mendengarmu. Di belakangku.

I wanna go on a road trip far far away and shut my phone off for a couple days, just to get away from the bullshit. 

Aku Mulai Gila



Belakangan ini, setiap aku akan tidur, aku seperti mendengar suara-suara orang yang kukenal di telingaku. Suara mereka sangat dekat dan nyata, terkadang malah sangat jelas, hingga cukup membuat mataku yang hampir terpenjam ini terbelalak kaget dan refleks menengok ke arah telinga sambil berharap menemukan seseorang di sana tapi tentu aku tidak menemukan satu pun orang karena hanya aku sendiri yang berada di kamar. Suara-suara itu sangat mengganggu waktu menuju tidurku. Mereka bicara, berteriak, memanggil-manggil namaku, dan mengucapkan kata-kata yang aku tidak mengerti untuk apa mereka mengatakan semua itu. Mungkin mereka mencoba menyampaikan sesuatu kepadaku? Mungkin aku berhalusinasi? Halusinasi saat 95% nyawaku berada di alam tidur, apa mungkin? Ah, well apa aku mulai gila?

Kau Masih Menganggapku?




Dulu kau bilang, aku adalah cinta. Dulu kau bilang, semua yang kau lakukan adalah pengorbanan. Dulu kau bilang, kau mengerti. Dulu kau bilang, tidak ada yang sebaik kau. Aku percaya, aku benar-benar percaya itu. Bahkan aku masih percaya semua yang kau bilang walau kau tak lagi menunjukan semua yang kau bilang. Sering aku berpikir, satu-satunya jalan keluar adalah meninggalkan ini semua. Tapi kenapa, kenapa saat aku ingin melangkahkan kaki dari semua ini kau malah menghalangiku? Kenapa kau menginginkan aku untuk tetap bersamamu? Apa kau masih menganggapku sebagai anakmu?

Kau Kejam


Seingatku, aku tidak pernah meminta apalagi memohon secercah kehidupan. Kehidupan yang bahkan aku tidak mengenalnya. Kehidupan yang aku tidak tahu jawaban untuk apa aku hidup. Hidup dalam benakku bukan yang seperti ini, kehidupanku bukan disini. Tapi mengapa Kau terus mendesakku sedemikian rupa. Kau masukkan aku dalam ruang sempit nan gelap. Kau ukir aku. Kau jadikan aku. Aku menangis, menangis sejadi-jadinya. Meratapi setiap senti kulit yang tersobek, menangisi setiap darah yang mengalir. Tuhan, aku benar-benar tidak menginginkan ini. Tuhan, kirim aku kembali menjadi aku yang dulu.Tuhan, aku mohon. Lalu setitik cahaya menyilaukan dan merusak pandanganku. Aku merasakan jari-jari yang terselimuti mendekap lembut tubuhku. Mengusap air mataku. “Akhirnya kau lahir, nak." katanya. Ini yang Kau inginkan, Tuhan. Aku lahir. Kau kejam.
Aku melakukan halku dan kau melakukan halmu.
Aku tidak berada di dunia ini untuk berbuat sesuai dengan harapan-harapanmu.
Dan kau tidak berada di dunia ini untuk berbuat sesuai dengan harapan-harapanku.
Kau adalah kau dan aku adalah aku,
dan apabila kita kebetulan saling bertemu
maka hal itu baik.
Kalau tidak, maka tidak dapat berbuat apa-apa.

Seperti udara, kau adalah sesuatu yang tidak akan pernah kutemui pada akhirnya.

Love is the only word that fills all the pages in the book of life.

Datang


Kalau kamu datang,
Aku berjanji tidak akan bertanya kenapa baru sekarang.
Kalau kamu datang, aku berjanji tidak akan membuatmu berdiri di depan pintu terlalu lama.
Kalau kamu datang, aku berjanji tidak akan bertanya,
hati mana saja yang sudah kau lewati untuk sampai di sini.
Karena dengan langkahmu, aku terbangun,
dari mati suri yang kunina-bobokan sendiri
Kalau kamu datang, tolong jangan pergi.
Aku lelah menjaga pintu.
Kalau kamu datang.
Aku berani sumpah, aku tenang.



Sadgenic.