Rabu, 22 Desember 2010

Tak Seperti Yang Kau Bayangkan

Orang yang udah pernah baca cerpen yang bener-bener real karya gue ini adalah nyokap gue dan (mungkin) editor salah satu majalah langganan temen sekelas gue. Selanjutnya adalah kalian yang berminat (tentu saja), tolong dibaca yaaa *ala pak tarno*

Tak Seperti yang Kau Bayangkan

            Langit yang basah dan udara yang lembab tak mampu membuatku terlelap. Sebuah majalah kubuka. Entah mengapa tak satu pun halamannya terlihat menarik.
            Hari itu, aku merasa waktu begitu cepat berlalu. Ingin kuulagi kembali tangisan itu.
            Aku beranjak dari tempat tidur dan meraih sebuah pena. Pena yang begitu indah berwarna biru dengan berjuta kisahnya yang telah menjadi bagian dalam hidupku. Aku duduk ditemani terang lampu meja. Perlahan kugoreskan pena itu.
* * *
            “Aira, ayo kita pulang! Ada yang ingin aku certain ke kamu!!”
Sebuah tangan menarikku kencang. Langkah kakinya yang lebar kuiringi dengan larian kecil.
            “Kasar banget! ada apa sih Mit?”
            Aku sedikit jengkel dengan tingkah Mita, sahabatku yang baru 3 bulan menginjakkan kakinya di Bogor.
            “Udahlah cepetan masuk!,” Ia membukakan pintu.
            Aku masuk ke dalam jazz merahnya dengan wajah sedikit kesal. Bukan karena aku menuruti perintahnya tetapi karena terik matahari siang yang sangat menyengat saat itu membuatku ingin segera merasakan kesejukan.
            “Jadi gini Ra, kayaknya aku naksir sama Dimas kelas XI ipa3 kamu mau kan bantuin aku?”
            Aku tersentak tak percaya dengan apa yang kudengar.
            “Dimas? Pria yang aku suka selama 2 tahun? Sahabatku menyukainya? Ya Tuhan apa yang harus aku perbuat?” dalam hatiku, berkata.
            Aku menatap Mita. Dia tersenyum aneh saat melirik ke arahku.

* * *
            “Latihan untuk kali ini sudah cukup.” Seorang pelatih memberikan komando bahwa pelatihan pramuka telah berakhir.
            “Jadi aku harus samperin dia sekarang?”
            “Iya, kapan lagi? Dari pada dia diambil wanita lain. Ini suratnya.” Wajah Mita yang berseri, sepertinya ia sangat menanti saat-saat ini.         
            Aku melangkahkan kakiku yang terasa begitu berat. Aku berkata pada diriku sendiri “Apa yang sedang aku lakukan? Membiarkan mereka bersama sementara hatiku hancur? Tapi Mita adalah sahabatku!  Mengapa aku baru menyadarinya jika selama ini perasaanku ternyata jauh lebih dalam dari yang kubayangkan. Bodoh!”
            Aku melihat Dimas semakin menjauh. Kupercepat langkahku.
            “Dimaaaaaas” aku berteriak sambil berlari.
“Hey Ra! Tumben banget manggil aku.” Dimas tersenyum menatapku yang sibuk menatur nafas.
“Aku cuma mau bilang kalau selama ini ada seseorang yang menyukaimu tapi dia ga berani nyatain cintanya secara langsung. Dan surat ini berisi semua perasaannya ke kamu” aku memberinya sepucuk itu lalu pergi meninggalkannya.
* * *
Bel istirahat menggema di langit kota hujan yang cerah. Mentari yang teduh memperhatikan hal yang jarang kulakukan. Berdiri di lantai tertinggi sekolahku. Menikmati keeksotisan gunung salak yang tinggi menjulang. Kicauan burung menambah damai suasana.
“Indah ya!”
Suara yang tak asing memecah lamunku.
“Dimas? Ko bisa ada di sini? Udah lama?” aku terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
“Ada deh. Rahasia. Aku adalah jin tampan yang bisa berada di mana pun dan kapan pun.”
“Huh, menyebalkan.”
“hahahaha.....” kami tertawa lepas bersama tanpa ada satu orang pun yang mengganggu.
Beberapa menit berlalu. Tanpa disengaja mataku menangkap sebuah bayangan mobil berwarna merah. Aku menatap Dimas yang sedang asik menatap jauh ke langit biru. Jantungku berdetak tidak beraturan saat ia menatap balik dengan senyum manisnya. Tak sanggup kumenatapnya jauh lebih dalam dan kujatuhkan pandangan ke taman sekolah.
“Dimas, tentang surat yang kemarin kuberi. Apa kau sudah membacanya?”
“Aku tak berniat menyakiti siapa pun. Tapi aku tak bisa melawan perasaanku. Sejak kita berlatih karate bersama, aku melihat sesuatu yang berbeda dalam dirimu. Entah mengapa aku merasa kau merasakan hal yang sama denganku dan aku yakin dengan hatiku. Aku mencintaimu.” Dimas menggenggamku dan memelukku erat. Aku tidak memiliki kekuatan untuk melawan karena hal yang sebenarnya adalah aku memiliki perasaan yang sama dengannya.
“Kamu tega Ra! Bisa-bisanya kamu kayak gini di belakang aku. Pengkhianat! Jahat!”
Segera aku lepaskan Dimas dan berusaha menjelaskan kepada Mita bahwa tentang hal yang baru saja terjadi. Tapi sepertinya Mita tidak mempercaiku. Ia berlari ke bawah ke arah kelas. Aku mengejarnya berharap ia mengerti.
“Mit, kamu salah paham. Kamu harus percaya aku. Ini semua tak seperti yang kaubayangkan!” aku berusaha meyakinkannya.
“Aku percaya pada hatiku. Hanya satu orang yang aku cintai Aira Castrina Putri.” Ucapan dimas itu cukup untuk didengar oleh seluruh orang yang ada di kelas. Air mataku tumpah saat itu juga tidak percaya Dimas akan berkata seperti itu di depan Mita.
“aira, kamu mendengarnya kan? Dia ga cinta sama aku. Dia Cuma cinta kamu. Jahat! Seperti yang kamu bilang tadi. Ini semua tak seperi yang kaubayangkan! Jahat! Jahat! Jahat kalau kamu nolak cintanya Dimas. Happy Birtday ya! Haha.” Mita meneluk dan mengecup pipiku. Aku menatap Dimas penuh kebahagiaan. Seketika kelas menjadi riuh.
***
“…. LAKSMITA DWIARI dan DIMAS NUGRAHA, kalian sangat berarti bagiku, terimakasih telah membuat hari ini terasa begitu indah. Lebih indah dari yang kubayangkan.” Mataku terpejam saat menggoreskan kata-kata terakhir dalam buku harianku malam itu.
                                                                                    ***


catatan: ini adalah cerpen pertama yang gue kirim ke salah satu majalah terkenal di Indonesia -_-. entah apa yang salah sampe sekarang belum ada konfirmasi apa pun dari majalah tersebut :(

Tidak ada komentar:

Posting Komentar