Ceritanya tentang cewe dan buku cokelat yang dikasih pacarnya delapan ratus dua puluh sembilan hari yang lalu.. baca yaaa ^^
Sabtu ke tiga di bulan Oktober. Perasaanku saat memandang tulisan itu serasa melewati delapan ratus dua puluh sembilan langit. Rasanya menyenangkan sekaligus menyakitkan.
Kau pikir aku sedang bergurau ? tidak. Tentu saja.
Baiklah ini yang terakhir, batinku. Aku mulai berjalan menelusuri koridor. Langkahku terhenti di ruang nomor delapan, kelas sepuluh. Kubuka sebuah buku tebal berwarna cokelat. Usianya telah melewati dua tahun, aku tahu persis kau sangat mengetahuinya. Aku buka kembali halaman demi halaman yang mulai lusuh.
Samar-samar terdengar seorang anak laki-laki berbicara dengan teman perempuanya.
“hei, coba lihat ini!” anak laki-laki mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya “Bukankah ini yang kau lihat di toko buku tadi?”
“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” anak perempuan itu tampak senang
“keajaiban hujan” jawabnya tersenyum.
Halaman ke empat ratus empat puluh empat di minggu ke dua bulan Juni dengan es krim rasa durian di bawah akasia yang terlihat menyenangkan. Saat itu kau bilang akan selalu seperti ini selamanya. Aku mempercainya sampai ke tujuh ratus lima puluh kalinya aku memandang langit senja bersamamu. Kini langit itu tampak berbeda. Tidak seperti langit-langit sebelumnya. Semua akan baik-baik saja, katamu. Tapi bagiku ini adalah sebuah proses yang menyakitkan.
Kembali pada kenyataan di sabtu ke tiga di bulan Oktober. Saat kau bilang sementara hanya menjadi teman. Terdengar selamanya bagiku. Dengan berat hati kuhabiskan buku tebal cokelat kita di halaman ke delapan ratus dua puluh sembilan dan keajaiban hujan itu, aku rasa sudah menghilang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar