Minggu, 26 Desember 2010

Kepada Kamu dengan Penuh Kebencian

kepada kamu, dengan penuh kebencian by: Raditya Dika


aku benci jatuh cinta.


aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu dan menebak-nebak.


aku benci deg-deg-an menunggu kamu online. dan di saat kamu muncul, aku akan ketiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu di seberang sana bisa tertawa. karena, kata orang, cara membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. mudah-mudahan itu benar.


aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di nbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting seolah-olah harus tanpa cacat atau aku bisa jadi kehilangan kamu. aku benci harus berada dalam posisi seperti itu, tapi aku tidak bisa menawar ya?


aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. apakah pertanyaan kamu itu sekedar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?


aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah gelisah. aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman tanpa harus tidur. cukup begini saja


aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. aku benci harus sadar atas semua kecanggungan itu, tapi tidak bisa melakukan apa-apa


aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan "Hey! ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu kalian berdua tidak punya anything in common" harus di mentahkan oleh hati yang berkata "jangan hiraukan logikamu!"


aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tapa cela, dan aku bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu


aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. karena di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan.. aku takut sendirian.

Sabtu, 25 Desember 2010

Kali Sunter Ancol

Tadi iseng-iseng gue ikut kuis di facebook "tempat angker yang cocok untuk mu" dan hasilnya adalah KALI SUNTER ANCOL, ga elit banget sih. Yang ada bukannya sibuk gangguin orang, gue malah sibuk nutup idung gue -_-


Entah kenapa balakangan gue suka banget hal-hal mistis kayak: nyelidikin si hantu bungkus, ikutan kuis facebook yang berbau mistis, nonton scary job, nonton dunia lain sampe pinjem dvd setan kaka gue

Btw, ada yang punya dvd horror ga? minjem dong..

Hantu Bungkus

Demam penasaran sama hantu penasaran yang bergentayangan di twitter masih menghantui gue. Siang ini gue memberanikan diri buat ngebuka blog-nya si hantu bungkus. heeem, ternyata dia blogger amatiran kayak gue.

Posting dia yang cuma ada sembilan biji memberi gue secercah harapan *senyum jahat* walau gue ga berhasil nemuin identitasnya tapi gue bisa tau kalau dia gentayangan di kawasan Jakarta hohoho (terbawa suasana natal).
Suatu saat gue bakal ungkap siapa sebenernya lu cong *meluk pohon pisang*

Makan dulu ah..

Blogging di Malam Hari

Buat gue malem adalah waktu yang pas buat main di dunia gue sendiri. Rasanya bebas mau ngapain aja, mulai dari online twitter, facebook, nonton dvd, ngabisin isi kulkas sampe nge-blogging ga bakal ada yang marahin *syarat dan ketentuan berlaku*.

Karena gue ga bisa tidur (lagi) akhirnya nge-blogging deh. Tadinya sih gue niat mau nyelidikin si hantu bungkus (liat posting gue sebelumnya, ternyata temen lama gue itu lagi kena virus penasaran ke si hantu bungkus sama kayak gue sekarang. Jadi, si hantu bungkus itu punya followers lebih dari 100.000 orang. Amazing. Dan itu yang bikin gue penasan, ko bisa sampe sebanyak itu?) tapi gue urungin niat gue karena pas gue lirik jam di hp ternyata udah jam satuan. Ga lucu kan kalau tiba-tiba si hantu bungkus nonggol bisa-bisa gue mati kelaperan (terakhir makan 6 jam yang lalu). So, gue pikir dari pada online twitter sama facebook yang gue tau ga bakal ada mention atau notif *ngelap air mata* akhirnya gue buka blog-nya Raditya Dika untuk yang pertama kalinya. Wow! lo wajib buka www.radityadika.com kenapa? posting terbarunya sampe malem ini, sukses bikin gue ngakak dengan foto-foto alay Raditya Dika. Tapi pas baca posting dibawah ketika (dika) alay dulu dan posting tentang komik-nya, gue langsung berhenti ngakak. Sumpah gua langsung pengen muntah liat dia sama adiknya di Singapur. Oh tuhan, liburan kali ini apakah hanya di rumah? *ngarep mujizat*. Well, beberapa posting yang menyakut liburan ga gue baca. Liburan belum tiba liburan belum tiba belum tiba liburan belum belum belum *sugesti diri sendiri*. Gue lanjutin deh baca post-post lain yang ternyata udah basi (up date beberapa bulan yang lalu). Dari pada gue baca bacaan basi, mending gue balik deh ke kampung halaman: Dunia Yenni Disini :D

Kamis, 23 Desember 2010

Dilema Malam Hari

Malem ini gue terinfeksi dilema malam harinya Raditya Dika: mau tidur tapi laper, mau nyari makan tapi ngantuk. Dan akhirnya gue malah ngeblogging (ga nyambung asaan?!)

Well, iseng-iseng gue buka blog temen lama gue. Walau udah hampir dua tahun ga ketemu, ga ada kabar, ga kirim kabar dan ga kirim duit, gue masih inget amanat dia kalau gue harus buka blognya. Dengan bermodalkan ingatan dan rasa percaya diri, gue coba buka deh tuh blog-nya. Satu kali alamat tidak ditemukan, dua kali alamat tidak ditemukan, tiga kali alamat tidak ditemukan, empat kali alamat tidak ditemukan dan sampe ke dua puluh tujuh kalinya alamat yang gue cari ga ada alias ga ketemu. Alhasil dengan pasrah gue buka situs lain. How lucky! gue nemu alamat blog yang real di akun facebook-nya. Pas udah masuk ke blog-nya, lo tau apa yang terjadi? gue langsung tutup mata. Ternyata gosip yang dulu pernah beredar benar adanya kalau dia emang sangat tertarik pada hal-hal yang sumpah ga banget! buat gue sih kalau hanya sekedar nulis ga jadi masalah tapi akan bermasalah kalau dia pasang gambarnya segala! ya Allah astagfirullahalazim kenapa gue bisa-bisanya ngeliat tuh gambar *hantu bungkus (sori pake istilah malingsia-> trauma dengan istilah Indonesianya). Oh sial, malam ini dilema gue bertambah: mau nge-blog tapi takut, trauma tapi penasaran. Dari pada tidur tapi takut tapi laper, gue putusin buat liat About me-nya dia. Yah, selain ga banget, fakta yang harus lo tau: dia itu humoris. Jadi walau pun trauma dan takut, gue bela-balain buat tetep stay di blog-nya. Yes! ternyata di arsip-nya gue nemu tulisan tentang jaman smp dulu. Dari judulnya sih gue yakin ceritanya tentang  skandal *maho (jangan anggep serius) di ex-class dan dugaan gue bener. Setelah bernostalgia dengan masa-masa smp, satu hal yang perlu lo tau: I MISS U my beloved ex-class :'(

Rabu, 22 Desember 2010

Delapan Ratus Dua Puluh Sembilan

Cerpen ke tiga yang gue post ini asli karya gue. kalau ga percaya, tanya aja sama malaikat rotib dan atid yang selalu stay di samping gue.

Ceritanya tentang cewe dan buku cokelat yang dikasih pacarnya delapan ratus dua puluh sembilan hari yang lalu.. baca yaaa ^^

Sabtu ke tiga di bulan Oktober. Perasaanku saat memandang tulisan itu serasa melewati delapan ratus dua puluh sembilan langit. Rasanya menyenangkan sekaligus menyakitkan.
Kau pikir aku sedang bergurau ? tidak. Tentu saja.
Baiklah ini yang terakhir, batinku. Aku mulai berjalan menelusuri koridor. Langkahku terhenti di ruang nomor delapan, kelas sepuluh. Kubuka sebuah buku tebal berwarna cokelat. Usianya telah melewati dua tahun, aku tahu persis kau sangat mengetahuinya. Aku buka kembali halaman demi halaman yang mulai lusuh.
Samar-samar terdengar seorang anak laki-laki berbicara dengan teman perempuanya.
“hei, coba lihat ini!” anak laki-laki mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya “Bukankah ini yang kau lihat di toko buku tadi?”
“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” anak perempuan itu tampak senang
“keajaiban hujan” jawabnya tersenyum.
Halaman ke empat ratus empat puluh empat di minggu ke dua bulan Juni dengan es krim rasa durian di bawah akasia yang terlihat menyenangkan. Saat itu kau bilang akan selalu seperti ini selamanya. Aku mempercainya sampai ke tujuh ratus lima puluh kalinya aku memandang langit senja bersamamu. Kini langit itu tampak berbeda. Tidak seperti langit-langit sebelumnya. Semua akan baik-baik saja, katamu. Tapi bagiku ini adalah sebuah proses yang menyakitkan.
Kembali pada kenyataan di sabtu ke tiga di bulan Oktober. Saat kau bilang sementara hanya menjadi teman. Terdengar selamanya bagiku. Dengan berat hati kuhabiskan buku tebal cokelat kita di halaman ke delapan ratus dua puluh sembilan dan keajaiban hujan itu, aku rasa sudah menghilang.

Boesenbergia Pandurata Roxb

ini tulisan berbentuk cerita ke dua yang gue post. selamat membaca :D

Agendaku besok adalah pergi ke dokter THT untuk memeriksakan kupingku yang hampir putus karena sepanjang hari ini sibuk mendengarkan ocehan beo berpita suara abnormal dengan suara yang nyaris fals.
Pagi ini dengan suara menggebu-gebu ia mengoceh dengan suara khas beonya. Bila diterjemahi, sepertinya ia mengomentari seorang tukang pos yang baru saja memangkas tiga akasia di depan sekolah. Bagaimana tidak, akasia adalah bagian dari kami.
Terlepas dari akasia, satu fakta yang perlu kau ketahui adalah ocehan beo-ku hanya akan berhenti  jika bel masuk jam pelajaran menggema dan tentu saja ini sangat membantuku me-refresh gendang telinga. Sayangnya kali ini bel istirahat yang berdering.
Bekal kali ini adalah roti dengan taburan muehlenbeckia platyclada khas toko roti. Tentunya aku berbagi dengan si bawel yang sejak beberapa detik lalu telah ada di sampingku.
“roti-mu asam, bagaimana jika ditambahkan dengan pithecollobium lobatum benth?! Aku yakin kita jauh lebih kenyang dan nafasmu lebih beraroma dari sebelumnya” katanya
“hei, itu akan membuatmu pingsan seketika bila berbicara denganku” sahutku
“bagaimana dengan leucaena leucocep….” Ocehannya terhenti saat mendengar bel msuk jam pelajaran bordering “terimakasih rotinya, aku akan menjemputmu jam empat sore” katanya sembari terbang menuju sangkarnya di sebrang kelasku.
***
Matahari hamper berada di barat. Aku memakai print pants dengan blezer motif houndstoop hitam-putih favoritku dan siap menghabiskan sore bersama sang beo.
“print pants-mu lebih cocok dipadu dengan ruffles yang ditumpuk dengan cardigan” komennya.
“itu terkesan too much bawel”
“well, gimana kalau atasan polos dengan detail dekonstruktif?”
“BEO!!” kataku kesal
“beo?? dimana?” tanyanya heran.
“di samping aku. Namanya Boesenbergia pandurata Roxb” aku tertawa
“jadi selama ini kamu anggep aku beo? Well, berarti ada beo keren yang lagi asyik pacaran dengan itik liar bernama Cairina Scutulata” balasnya
Kami pun serentak tertawa menghabiskan langit senja bersama :D

catatan: real tulisan gue, tanya aja ke qotrun :p

Tak Seperti Yang Kau Bayangkan

Orang yang udah pernah baca cerpen yang bener-bener real karya gue ini adalah nyokap gue dan (mungkin) editor salah satu majalah langganan temen sekelas gue. Selanjutnya adalah kalian yang berminat (tentu saja), tolong dibaca yaaa *ala pak tarno*

Tak Seperti yang Kau Bayangkan

            Langit yang basah dan udara yang lembab tak mampu membuatku terlelap. Sebuah majalah kubuka. Entah mengapa tak satu pun halamannya terlihat menarik.
            Hari itu, aku merasa waktu begitu cepat berlalu. Ingin kuulagi kembali tangisan itu.
            Aku beranjak dari tempat tidur dan meraih sebuah pena. Pena yang begitu indah berwarna biru dengan berjuta kisahnya yang telah menjadi bagian dalam hidupku. Aku duduk ditemani terang lampu meja. Perlahan kugoreskan pena itu.
* * *
            “Aira, ayo kita pulang! Ada yang ingin aku certain ke kamu!!”
Sebuah tangan menarikku kencang. Langkah kakinya yang lebar kuiringi dengan larian kecil.
            “Kasar banget! ada apa sih Mit?”
            Aku sedikit jengkel dengan tingkah Mita, sahabatku yang baru 3 bulan menginjakkan kakinya di Bogor.
            “Udahlah cepetan masuk!,” Ia membukakan pintu.
            Aku masuk ke dalam jazz merahnya dengan wajah sedikit kesal. Bukan karena aku menuruti perintahnya tetapi karena terik matahari siang yang sangat menyengat saat itu membuatku ingin segera merasakan kesejukan.
            “Jadi gini Ra, kayaknya aku naksir sama Dimas kelas XI ipa3 kamu mau kan bantuin aku?”
            Aku tersentak tak percaya dengan apa yang kudengar.
            “Dimas? Pria yang aku suka selama 2 tahun? Sahabatku menyukainya? Ya Tuhan apa yang harus aku perbuat?” dalam hatiku, berkata.
            Aku menatap Mita. Dia tersenyum aneh saat melirik ke arahku.

* * *
            “Latihan untuk kali ini sudah cukup.” Seorang pelatih memberikan komando bahwa pelatihan pramuka telah berakhir.
            “Jadi aku harus samperin dia sekarang?”
            “Iya, kapan lagi? Dari pada dia diambil wanita lain. Ini suratnya.” Wajah Mita yang berseri, sepertinya ia sangat menanti saat-saat ini.         
            Aku melangkahkan kakiku yang terasa begitu berat. Aku berkata pada diriku sendiri “Apa yang sedang aku lakukan? Membiarkan mereka bersama sementara hatiku hancur? Tapi Mita adalah sahabatku!  Mengapa aku baru menyadarinya jika selama ini perasaanku ternyata jauh lebih dalam dari yang kubayangkan. Bodoh!”
            Aku melihat Dimas semakin menjauh. Kupercepat langkahku.
            “Dimaaaaaas” aku berteriak sambil berlari.
“Hey Ra! Tumben banget manggil aku.” Dimas tersenyum menatapku yang sibuk menatur nafas.
“Aku cuma mau bilang kalau selama ini ada seseorang yang menyukaimu tapi dia ga berani nyatain cintanya secara langsung. Dan surat ini berisi semua perasaannya ke kamu” aku memberinya sepucuk itu lalu pergi meninggalkannya.
* * *
Bel istirahat menggema di langit kota hujan yang cerah. Mentari yang teduh memperhatikan hal yang jarang kulakukan. Berdiri di lantai tertinggi sekolahku. Menikmati keeksotisan gunung salak yang tinggi menjulang. Kicauan burung menambah damai suasana.
“Indah ya!”
Suara yang tak asing memecah lamunku.
“Dimas? Ko bisa ada di sini? Udah lama?” aku terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
“Ada deh. Rahasia. Aku adalah jin tampan yang bisa berada di mana pun dan kapan pun.”
“Huh, menyebalkan.”
“hahahaha.....” kami tertawa lepas bersama tanpa ada satu orang pun yang mengganggu.
Beberapa menit berlalu. Tanpa disengaja mataku menangkap sebuah bayangan mobil berwarna merah. Aku menatap Dimas yang sedang asik menatap jauh ke langit biru. Jantungku berdetak tidak beraturan saat ia menatap balik dengan senyum manisnya. Tak sanggup kumenatapnya jauh lebih dalam dan kujatuhkan pandangan ke taman sekolah.
“Dimas, tentang surat yang kemarin kuberi. Apa kau sudah membacanya?”
“Aku tak berniat menyakiti siapa pun. Tapi aku tak bisa melawan perasaanku. Sejak kita berlatih karate bersama, aku melihat sesuatu yang berbeda dalam dirimu. Entah mengapa aku merasa kau merasakan hal yang sama denganku dan aku yakin dengan hatiku. Aku mencintaimu.” Dimas menggenggamku dan memelukku erat. Aku tidak memiliki kekuatan untuk melawan karena hal yang sebenarnya adalah aku memiliki perasaan yang sama dengannya.
“Kamu tega Ra! Bisa-bisanya kamu kayak gini di belakang aku. Pengkhianat! Jahat!”
Segera aku lepaskan Dimas dan berusaha menjelaskan kepada Mita bahwa tentang hal yang baru saja terjadi. Tapi sepertinya Mita tidak mempercaiku. Ia berlari ke bawah ke arah kelas. Aku mengejarnya berharap ia mengerti.
“Mit, kamu salah paham. Kamu harus percaya aku. Ini semua tak seperti yang kaubayangkan!” aku berusaha meyakinkannya.
“Aku percaya pada hatiku. Hanya satu orang yang aku cintai Aira Castrina Putri.” Ucapan dimas itu cukup untuk didengar oleh seluruh orang yang ada di kelas. Air mataku tumpah saat itu juga tidak percaya Dimas akan berkata seperti itu di depan Mita.
“aira, kamu mendengarnya kan? Dia ga cinta sama aku. Dia Cuma cinta kamu. Jahat! Seperti yang kamu bilang tadi. Ini semua tak seperi yang kaubayangkan! Jahat! Jahat! Jahat kalau kamu nolak cintanya Dimas. Happy Birtday ya! Haha.” Mita meneluk dan mengecup pipiku. Aku menatap Dimas penuh kebahagiaan. Seketika kelas menjadi riuh.
***
“…. LAKSMITA DWIARI dan DIMAS NUGRAHA, kalian sangat berarti bagiku, terimakasih telah membuat hari ini terasa begitu indah. Lebih indah dari yang kubayangkan.” Mataku terpejam saat menggoreskan kata-kata terakhir dalam buku harianku malam itu.
                                                                                    ***


catatan: ini adalah cerpen pertama yang gue kirim ke salah satu majalah terkenal di Indonesia -_-. entah apa yang salah sampe sekarang belum ada konfirmasi apa pun dari majalah tersebut :(

Yenni's World

 Selamat datang di dunia gue :D

Anak gaul mana sih yang hari gini ga punya twitter, facebook atau blog kaya gue?! sayangnya gue masuk dalam daftar anak cupu di sekolah -_- ini didukung dengan kacamata minus gue yang super tebel. bagi gue sih ga masalah, karena gue sekolah buat ngalahin archimedes bukan buat ngalahin lo semua.
menurut setan yang bersemayam di belakang kelas bilang kalau gue tuh iri sama eksistensi anak-anak gaul di sekolah. kenapa? karena mereka bisa ekspresiin diri mereka di sekolah walau sedikit anarkis dan menyimapang. namanya juga bisikan setan, jadi buru-buru deh gue istighfar. gampang aja sih sebenernya kalau gue mau eksis di sekolah, tinggal gantung diri di pohon puring dan gue yakin sampe bertahun-tahun anak-anak satu sekolah bakal meng-elu-elu-kan gue bahkan mungkin kisah tragis gue akan dijadiin dongeng tidur buat cucu-cucu mereka. tapi kalau gue jadi mereka apa mereka mau jadi gue? dan dalam hal ini gue pegang erat prinsip yang telah dibangun olah tetangga gue: gue gue elu elu.
So, siapa peduli dengan semua kasta remaja sekarang?!

terlepas dari  itu semua, gue sebagai presiden Yenni's Land ngucapin WELCOME IN MY WORLD :D